Home / Senggang / Resto Area / Menyajikan Makanan Berkonsep Islami

Menyajikan Makanan Berkonsep Islami

Rumah Makan Haji Za’i

Hampir setiap tempat makan selalu memasang label halal atau boleh disantap oleh mereka yang menganut agama Islam. Tapi, itu semua hanya mengacu pada makanan dan minuman yang ditawarkan. Berbeda dengan Rumah Makan Haji Za’i, yang juga menerapkan beberapa unsur Islami dalam banyak hal. Apa sajakah itu?

[su_pullquote align=”right”]Harga menu kami terjangkau[/su_pullquote]

e-preneur.co. Sejak beberapa tahun belakangan ini, beberapa sektor bisnis di Tanah Air berbondong-bondong menerapkan konsep syariah. Mulai dari perbankan, finansial, asuransi, hingga perhotelan.

Bahkan, konsep ini juga mulai merambah bisnis kuliner. Seperti, yang dilakukan Rumah Makan Haji Za’i (RM H. Za’i), sebuah rumah makan Sunda–Betawi yang berlokasi di Jalan Raya Setu Cikaret, Cibinong, Bogor, Jawa Barat.

Layaknya rumah makan Negeri Pasundan, RM H. Za’i yang berdiri di atas lahan seluas sekitar 300 m²–400 m² ini memiliki desain interior yang didominasi unsur anyaman bambu, saung, serta duduk lesehan, di samping duduk dengan meja dan kursi. Setiap pengunjung yang datang, akan memperoleh welcome drink berupa lemon tea hangat dalam gelas yang sangat mungil. Selain itu, juga tahu kuning goreng plus sambal petis. Tahu yang jumlahnya lima ini disebut Tahu Menunggu.

haji za'i 2“Maksudnya, sambil menunggu makanan yang dipesan matang selama proses memasak yang memakan waktu 10–15 menit, para tamu dapat menikmati tahu dan welcome drink terlebih dulu. Sajian gratis ini sekaligus tanda penghormatan kepada para tamu,” kata Mahmud, Manajer RM H. Za’i.

Selanjutnya, buku menu pun diberikan. Jika kita sedikit jeli, kita akan melihat bahwa semua harga makanan dan minuman yang tersaji dalam rumah makan yang dibangun tahun 2006 ini, selalu berakhir dengan angka ‘05. Ternyata, hal ini, untuk menggambarkan hal-hal yang terdapat dalam ajaran Islam, seperti sholat itu memiliki lima waktu dan Rukun Islam itu ada lima.

Nuansa Islami juga terlihat dari makanan dan minuman unggulan rumah makan ini, seperti es kelapa putih yang disajikan dalam gelas tinggi yang menggambarkan baju ihram, jus kurma yang diolah dari buah kurma, dan sop kurma. Di samping itu, rumah makan yang juga berkonsep family restorant ini juga memiliki makanan dan minuman favorit, seperti gurame dan ayam kampung yang dapat disajikan dalam bentuk digoreng, dibakar, atau dibuat pecak, serta es Haji Za’i yang mirip dengan es campur.

“Bisnis ini bersifat Islami. Karena, dari awal pembelian bahan baku hingga tersaji sebagai makanan matang, Insya Allah halal. Di sisi lain, makanan yang kami sajikan dalam kondisi fresh, bukan makanan yang sudah matang yang lalu dihangatkan. Termasuk, sambalnya. Karena, kami baru memasaknya setelah makanan dipesan. Waktu memasaknya pun hanya 10–15 menit,” ujarnya.

Pelanggan juga dapat request makanan sesuai dengan seleranya, misalnya tidak asin, tidak pedas, dan lain-lain. Berkaitan dengan itu, tidak mengherankan jika di meja rumah makan ini tidak tersedia garam, kecap, lada, dan sebagainya.

Sementara dari segi harga, ia menambahkan, disesuaikan dengan besarnya biaya produksi. Sehingga, kalau pun mengambil keuntungan itu tidak banyak. Harga menu juga belum dinaikkan sejak rumah makan ini dibuka. Bahkan, saat puasa di mana semua harga bahan baku naik. “Intinya, bukan keuntungan yang kami utamakan,” ucapnya.

haji za'i 4Dalam pelayanannya, saat adzan berkumandang, segala kegiatan di rumah makan yang beroperasi pada jam 08.00–20.00 ini diberhentikan sementara. “Bila pelanggan datang saat memasuki waktu sholat, kami akan meminta izin untuk menunggu sampai kumandang adzan berakhir dan para karyawan kami bergantian sholat. Setelah itu, yang sudah selesai sholat akan segera melayani pesanan pengunjung,” jelasnya.

Disamping itu, rumah makan berkapasitas 160 orang ini juga tidak menyediakan rokok, pete, jengkol, dan barang-barang bersifat mubah (aktivitas yang bila dikerjakan atau tidak dikerjakan tidak berpahala dan tidak pula berdosa, red.). Meski begitu, pengunjung boleh merokok dan minta disediakan pete atau jengkol.

Dan, seperti sudah dikatakan di atas bahwa bukan keuntungan yang diutamakan oleh bisnis ini, maka sekali pun family restorant yang notabene hanya penuh pengunjung saat weekends atau hari-hari libur dan sepi pengunjung saat weekdays, RM H. Za’i tidak berusaha menarik pengunjung dengan berbagai cara.

“Ada tamu oke, tidak ada tamu tidak apa-apa. Dan, berapa pun tamu yang datang akan tetap kami layani. Bagi kami, yang terpenting yaitu menjaga kualitas. Dengan begitu, pengunjung yang pernah datang akan datang lagi dan kemungkinan besar akan membawa keluarga atau teman-temannya,” pungkasnya.

Selain ragam pilihan makanan dan minuman yang lezat, rumah makan yang kini telah membuka cabang di Cileungsi dan Tambun ini juga menyediakan meeting roomfullair conditioner berkapasitas 30 orang, dengan masa sewa tiga jam.

Check Also

Ketika Para Perantau Kangen dengan Kampung Halamannya

Bubur Samin Bubur Samin bukanlah makanan tradisional Solo, tapi menjadi menu takjil yang ikonik di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *