Home / Agro Bisnis / Kocek Melimpah dari Si Pengisap Darah

Kocek Melimpah dari Si Pengisap Darah

Lintah

Dibalik wujudnya yang menjijikan, lintah rupanya memiliki khasiat membantu menyembuhkan berbagai penyakit. Selain itu, jika dijadikan sebagai sebuah bisnis, prospeknya sangat cerah. Karena, omset yang dihasilkan sangat berlimpah. Tidakkah Anda tertarik?

[su_pullquote align=”right”]Lintah, bukan hanya penyembuh, melainkan juga dapat digunakan sebagai sarana kecantikan[/su_pullquote]

 e-preneur.co. Dari mana datangnya lintah? Dari sawah turun ke kali. Dari mana datangnya cinta? Dari mata turun ke hati. Anda tentu ingat sepenggal bait pada sebuah lagu lawas yang beraroma cinta ini, bukan?Tapi, bukan soal lagu tersebut yang akan kita bahas, melainkan tentang lintah itu sendiri.

Orang sering menyamakan lintah dengan pacet. Padahal, meski mirip, keduanya mempunyai banyak perbedaan. Pacet banyak ditemui di pegunungan, hutan, dan tempat-tempat lain yang notabene berhawa lembab. Sedangkan lintah, banyak di jumpai di areal persawahan.

Selain itu, walau sama-sama bertahan hidup dengan mengisap darah binatang lain atau manusia, pacet tidak berfungsi menyembuhkan. Sebaliknya lintah, bukan hanya penyembuh, melainkan juga dapat digunakan sebagai sarana kecantikan.

Karena kegunaannya itulah, entah sejak kapan binatang bertubuh empuk dan berlendir ini diternakkan. Sementara, untuk menternakkannya sendiri ada dua hal yang melatarbelakanginya.

lintah-1Pertama, kalangan medis, terutama dari mancanegara, meyakini bahwa lintah yang diternakkan lebih terjamin kesehatannya (baca: kebersihannya, red.). Salah satu alasannya, karena minimal sebulan sekali air di kolam penampungannya diganti. Kedua, sejak domisili asli lintah yaitu sawah dimoderenisasikan, maka hewan ini menghilang.

Untuk membudidayakan satwa penyembuh (hirudo medicinalis) ini, boleh dibilang gampang-gampang susah. Dikatakan gampang, sebab karnivora, bahkan beberapa di antaranya merupakan predator, ini cukup diberi makan belut dan berbagai jenis invertebrata (binatang tidak bertulang belakang, red.) lain, seperti cacing, siput, dan larva serangga. Binatang-binatang ini di habitat aslinya merupakan makanan utama lintah.

“Dengan belut sebanyak 1 kg yang diberikan satu bulan sekali, lintah-lintah ini akan bertahan hidup hingga tujuh bulan ke depan. Tapi, peternak lintah biasanya akan memberi mereka makan 2−4 minggu sekali, sebanyak 2−3 kg belut,” jelas Salim.

Karena, peternak lintah di kawasan Sawangan, Depok, ini melanjutkan, misi para peternak bukan sekadar agar binatang itu bertahan hidup, melainkan juga supaya cepat besar dan panjang. Sehingga, semakin cepat pula dipanen. Meski, lintah sebenarnya baru layak jual atau mampu menjalankan fungsinya, ketika berumur minimal enam bulan atau berukuran 6−8 cm.

lintah-2Sekadar informasi, sesudah digunakan untuk mengobati, lintah-lintah tersebut harus dimatikan dengan cara dibuang ke sungai, dikubur, diberi garam, dan sebagainya. “Tidak boleh digunakan lagi! Sebab, ditakutkan akan menularkan penyakit dari orang yang satu ke orang yang lain, melalui darah yang telah diisapnya,” ungkapnya. Lintah yang telah mati atau dimatikan akan berubah wujud menjadi cairan atau mencair.

Di sisi lain, memelihara lintah itu susah. Mengingat, pertama, binatang bertubuh lentur bak karet ini hobi kabur, terutama di musim hujan. Selain itu, bila melihat lubang sekecil apa pun, binatang yang disebut leech oleh orang bule ini akan segera nyelonong keluar. Karena itu, dibutuhkan pengawasan ekstra ketat dan segera menutup rapat lubang itu dengan semen, misalnya.

Kedua, lintah merupaka hewan hermaprodhite (berkelamin ganda). Sehingga, tidak pernah diketahui kapan dan bagaimana ia berkembang biak. Dampaknya, peternak seringkali mengalami kesulitan dalam memantau proses pembibitannya.

“Biasanya, pada musim kemarau mereka beranak pinak. Setiap indukan, menurut literatur, mampu menghasilkan 200−300 bayi lintah. Tapi, faktanya hanya 50−60 ekor,” ungkap Salim, yang setiap bulan memanen minimal 10.000 lintah dan selalu sold out.

Dengan demikian, tidak dimungkiri jika bisnis lintah memiliki prospek yang sangat baik. Apalagi, berdasarkan catatan yang dibuat pria berpendidikan Sekolah Dasar ini, permintaan akan lintah dari waktu ke waktu semakin bertambah banyak.

Setiap minggu, hampir selalu muncul konsumen baru (diduga dilatarbelakangi oleh semakin banyak orang, yang membuka tempat pengobatan dengan lintah sebagai medianya). Hingga, satu ketika, ia pernah keteteran melayani permintaan.

“Awalnya (tahun 2007), saya memperoleh pesanan lintah dari Salatiga. Yang bersangkutan akan membuat minyak lintah. Lalu, lintah yang tersisa, saya pelihara. Setahun kemudian, saya pasarkan. Tapi hasilnya belum seberapa. Selanjutnya, terjadi kenaikan permintaan (yang tentu saja diikuti kenaikan omset) beratus-ratus persen sampai saya kewalahan,” kisah mantan pedagang makanan di kantin Universitas Indonesia ini.

Karena kewalahan, Salim yang telah mengirimkan binatang pengisap darah ini ke seluruh Jawa, Bali, sebagian Medan, dan Kalimantan ini, menolak permintaan dari luar negeri.

Saat itu, Salim menjual lintah-lintahnya dengan harga minimal Rp2.500,-/ekor (Jakarta) atau Rp4.000,- sampai Rp5.000,- per ekor (luar Jakarta). Bahkan dalam kondisi tertentu, ia menjual lintahnya dengan harga Rp8.000,- hingga Rp10.000,- setiap ekornya. Sementara, harga di pasar mencapai Rp15.000,- hingga Rp30.000,- per ekor.

Selain itu, kelahiran Ciamis ini juga membuat minyak lintah sebanyak minimal 50 botol/bulan, yang juga selalu laris manis. Minyak lintah (leech oil) itu, dijualnya dengan harga Rp50.000,-/botol (isi 6 cc, red.). Sedangkan harga pasarannya Rp100.000,- hingga Rp200.000,-.

Sekadar informasi, minyak lintah terbuat dari lintah pilihan. Kemudian, direndam dengan ramuan khusus. Fungsinya, untuk mengeluarkan zat-zat yang terkandung di dalam hewan “haus” darah tersebut, sekaligus menghilangkan baunya yang tidak sedap.

Untuk menghasilkan minyak lintah, dibutuhkan proses yang relatif lama dan teknik khusus. Sementara, dilihat dari kegunaannya, minyak ini digunakan untuk memperkeras, memperpanjang, dan memperbesar (maaf) alat vital pria, tanpa efek samping. Mau mencoba?

Catatan

  • Usaha ini, jika dijalankan hanya dengan menggunakan ratusan ekor indukan, justru akan merugi. Karena itu, sebelum usaha ini dijalankan, siapkanlah modal (uang) secara matang. Selanjutnya, buatlah kolam yang berukuran lebih besar, misalnya 4 m² x 1 m². Dengan kolam seluas itu, dapat ditampung 2.000 ekor indukan.
  • Usaha ini dapat dijalankan dengan atau tanpa tenaga kerja.
  • Sebaiknya, bayi-bayi lintah tidak dipisahkan dari induknya hingga dirasa sudah cukup besar.

 

 

Check Also

Menyehatkan Konsumennya, Menguntungkan Petaninya

Beras Hitam Organik Meski buruk rupa, tapi kaya manfaat kesehatan. Tidak mengherankan, bila peminat Beras …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *