Home / Kiat / Tidak Ada Gerai, Ambulans Pun Oke

Tidak Ada Gerai, Ambulans Pun Oke

Positively Pink (Sepatu Lukis)

Banyak orang memiliki presepsi bahwa agar sebuah bisnis dapat berjalan dengan sukses, harus dibangun dengan modal yang serba wah. Tapi Tina, Dani, dan Nia menepisnya dengan modal patungan dan ambulans pinjaman

e-preneur.co.Tidak ada rotan, akar pun jadi. Tidak mempunyai outlet untuk memasarkan produk bisnis, menggunakan mobil ambulans juga oke kok. Begitulah yang terlitas dalam benak Kristina Budiutami (Tina), Diah Dani (Dani), dan Kurniansyah (Nia). Sebab, saat memulai usaha sepatu lukis, tiga dara alumni Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung, ini memang, boleh dikata, modal hobi dan dengkul saja.

Untuk modal awal, misalnya, mereka patungan. Hasilnya, terkumpul Rp1 juta yang langsung dibelikan selusin sepatu sneakers, cat, dan perlengkapan penunjang lain. Selanjutnya, untuk memasarkan produk, mereka menggunakan mobil Daihatsu Espass yang difungsikan sebagai ambulans oleh Ibu Nia, yang berprofesi bidan.

“Mobil itu, sebenarnya hanya fungsinya sebagai ambulans (mengantar pasien tetapi tidak dalam keadaan darurat, red.), sedangkan bentuknya Espass dan milik keluarga kami,” jelas Nia.

Meski mobil itu sering digunakan untuk bekerja, Tina menambahkan, tapi ketika sedang menganggur, mereka manfaatkan untuk berjualan. “Maklum, belum punya outlet,” kata sarjana jurusan lukis ini. Kebetulan lagi, mobil tersebut memiliki bentuk yang memungkinkan mereka men-display sepatu-sepatu hasil karya mereka. “Konsep yang kami usung kala itu yaitu emergency shopping. Kami berkeliling ke hampir semua sekolah di Jakarta, untuk mendatangi konsumen-konsumen kami,” lanjutnya.

[su_pullquote align=”right”]Dengan ambulans, kami “mengusung” konsep emergency shopping[/su_pullquote]

Sayang, usaha ini terkendala banyak hal.Seperti, tidak semua tempat yang mereka datangi boleh digunakan untuk berjualan, banyaknya tukang palak, keterbatasan waktu berjualan, dan diuber-uber petugas Satpol PP (Satuan Polisi Pamong Praja).

“Di satu sisi, konsumen kami kan anak-anak sekolah yang duitnya cuma cukup untuk jajan. Di sisi lain, kami kesulitan memenuhi pesanan mereka.Karena,enggak tahu kapan lagi akan ketemu.Mengingat, kami sering berpindah-pindah lokasi berjualan,” ungkapnya.

Untuk itulah, kemudian, mereka memilih untuk berjualan di sebuah pertokoan di Jalan Lamandau, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. “Di sini, orang datang lantaran memang ingin membeli atau memesan sepatu-sepatu kami. Bahkan, kalau memesan, mereka boleh DP (down payment = uang muka) 50% dulu, yang sisanya dilunasi setelah sepatu jadi. Di sini, kami juga tidak dibatasi jam,” kata Dani.

Dari sini, sepatu-sepatu sneakers mereka, melalui pemesanan, telah merambah Aceh, Kalimantan, dan Sulawesi.Sehingga, mereka mampu mengumpulkan omset rata-rata belasan juta rupiah per bulan.

Sedangkan untuk sepatunya, mereka membuatnya berbeda dengan sepatu-sepatu sneakers yang lain. Sepatu sneakers yang mereka beri label Positively Pink tersebut, mereka tambahi gambar atau desain lucu.Sehingga, konsumen lebih tertarik. “Untuk desain, kami membaginya menjadi dua. Pertama, sesuai dengan konsep atau keinginan kami. Kedua, sesuai dengan keinginan konsumen,” ucap sarjana jurusan keramik ini.

Sekadar informasi, nama Positively Pink yang menjadi nama bisnis yang mereka bangun pada Juli 2007 itu, berasal dari dua hal yaitu tanda cross (merah) yang menempel pada ambulans yang identik dengan tanda positive dan para remaja putri (yang awalnya merupakan target konsumen mereka), yang identik dengan warna pink.

Sepatu-sepatu berukuran 30–40 (untuk cewek) dan 37–43 (untuk cowok) ini juga mengusung warna-warna cerah, sesuai dengan tema toko mereka yaitu retro vintage. “Karena latar belakang pendidikan kami, maka dari segi desain dan komposisi warna juga lebih enak dilihat,” kata Tina, tanpa bermaksud sombong.

Selain itu, cat yang digunakan juga tidak akan luntur ketika sepatu dicuci. Mereka juga mengemas sepatu-sepatu itu dengan tas berjaring warna-warni (bukan kotak kardus, red.).Sehingga, tampak lebih menarik. “Sekadar ingin berbeda dari kemasan pada umumnya, sekaligus promosi berjalan,” imbuh Dani.

Lebih dari itu, Nia menambahkan, sepatu-sepatu seharga ratusan ribu rupiah ini sentuhan personalnya sangat terasa.Karena, dibuat langsung oleh tangan-tangan mereka.

“Kami memiliki identitas yang tergambar dari sepatu-sepatu itu. Sehingga, dari situ, konsumen akan langsung mengetahui siapa yang melukisnya. Misalnya, Dani spesialisasinya di anime (kartun khas Jepang) dan manga (komik khas Jepang), Tina cenderung di komik-komik barat, dan saya juga di kartun barat tapi bukan karakter manusianya,” jelas sarjana jurusan desain produk ini.

Dengan demikian, mereka hanya membuat satu desain untuk satu pasang sepatu. Tapi, tidak berarti bahwa mereka tidak mampu membuat satu desain untuk berbagai ukuran sepatu. Sedangkan tentang berapa lama waktu yang mereka butuhkan untuk membuat sepasang sepatu, sangat tergantung pada desain dan motifnya.

“Tapi, kami memaksa diri kami masing-masing untuk bisa membuat tiga pasang sepatu dalam sehari atau sembilan pasang sepatu per hari. Di samping itu, setiap dua minggu sekali, kami mengeluarkan desain baru sesuai dengan tema atau tren yang sedang berlangsung,” kata Dani. Strategi bisnis yang manis, bukan?

Check Also

“Naik Kelas” dengan Mengganti Gerobak Dorong dengan Outlet Permanen Berkonsep Restoran

Bakmi Gila Usaha kakilima banyak diminati para pelaku usaha. Selain itu, konsep PKL mempunyai potensi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *