Home / Senggang / Jalan-Jalan / One to One Marketing

One to One Marketing

Mirah Hotel

Julukan sebagai Kota Transit, menjadikan hotel-hotel yang bertebaran di Bogor memposisikan diri mereka sebagai hotel bisnis. Seperti halnya, Mirah Hotel yang menyediakan tujuh meeting room dan melayani kliennya dari awal hingga akhir hubungan bisnis

hotel mirah-2e-preneur.co. Bogor. Dikenal sebagai kota bersejarah, yang dipenuhi dengan bangunan-bangunan bersejarah dan berbagai tempat wisata. Tapi, Kota Hujan ini bukanlah Kota Wisata, melainkan Kota Transit. Sehingga, hotel-hotel yang bertebaran di kota ini, sejak awal sudah menancapkan kuku mereka sebagai hotel bisnis. Seperti, The Mirah Hotel Bogor atau Mirah Hotel.

Perjalanan hidup Mirah Hotel dimulai dari dibangunnya Wisma Mirah, pada tahun 1980. Kesuksesan hotel yang berlokasi di Jalan Martadinata itu, berimbas dengan dibangunnya Mirah Sartika di Jalan Dewi Sartika. Hotel ini hanya memiliki 54 kamar dan ditujukan bagi konsumen menengah ke bawah, tapi memiliki tingkat hunian yang luar biasa yakni 80%.

Keberhasilan Mirah Sartika berdampak pada direnovasinya sebuah tempat kos, dengan fasilitas layaknya hotel. Setelah kamar-kamarnya dirapikan dan ditambahi kamar mandi, maka, pada tahun 1996, jadilah tempat yang terletak di Jalan Pangrango itu…Mirah Hotel.

“Saat ini, Mirah Hotel memiliki 140 kamarbertipe Superior, Deluxe Family, Deluxe, Suite, dan Presidential. Semua kamar tersebut berstandar bintang empat, meski kami hotel bintang tiga.Karena, di dalamnya, kami menyediakan fasilitasTV LED 32” dengan lebih dari 20 program lokal dan internasional, akses internet WiFi berkecepatan tinggi, pendingin ruangan, meja kerja, mesin pembuat kopi dan teh, air panas dan dingin dengan ruangan shower yang besar, tempat tidur berkualitas tinggi dari King Koil, serta seprei dan sarung bantal berkualitas katun terbaik,” kataDafi Yahya, President Director PT Mirah Agung Perdana, perusahaan yang memayungi Mirah Hotel.

Selain itu, Mirah Hotel yang berdiri di atas lahan seluas 8.000 m² dan terdiri dari lima lantai ini, juga menyediakan fasilitas kolam renang, pusat kebugaran, karaoke, akses internet WiFi berkecepatan tinggi, dua restoran dengan pilihan menu menarik, layanan kamar 24 jam, layanan front office dan keamanan 24 jam, proses check-in/out yang singkat, serta area parkir yang memadai. “Pusat kebugaran yang seluas 1.000 m² ini, mampu menampung 200 orang. Di samping ditujukan untuk tamu hotel, juga untuk umum,” lanjutnya.

[espro-slider id=707]

Di Mirah Hotel, klien akan dilayani oleh orang yang sama, dari awal hingga akhir hubungan bisnis

Sementara dilihat dari lokasinya, hotel yang terletak di antara Gunung Gede dan Gunung Pangrango ini, sangat strategis. Misalnya, untuk menuju Istana Bogor, bisa ditempuh dalam waktu kurang dari 10 menit dengan perjalanan darat. Atau, jika ingin menuju arena perbelanjaan, seperti Botanical Garden Mall, cukup ditempuh dalam tempo 5 menit dengan berjalan dan akan melewati Taman Nasional Kebun Raya Bogor.

Bukan cuma itu, Mirah hotel juga dikelilingi oleh berbagai restoran dan kafe yang menawarkan masakan lokal, nasional, dan internasional. Termasuk, menu-menu unik khas oleh-oleh dari Bogor.

Namun, satu dari lima hotel pilihan jika berkunjung ke Bogor ini, Dafi menjelaskan, berkonsep hotel bisnis. Lantaran, banyak meeting yang menggunakan fasilitas hotel yang mudah diakses dari Jagorawi Highway ini.

“Kebetulan, tingkat hunian kami justru lebih rendah daripada pemakaian meeting room. Sehingga, otomatis tingkat hunian pada weekends lebih rendah daripada weekdays yaitu 50% pada weekends dan 90% pada weekdays,” ujar Dafi, yang bergabung di hotel milik orangtuanya ini pada tahun 2003.

Status Bogor yang hanya Kota Transit, Dafi melanjutkan, semakin memantapkan konsep hotelnya. “Mirah Hotel yang ditujukan bagi konsumen menengah ke atas, menjadikan para pelaku bisnis sebagai sasaran utama, di samping mereka yang berasal instansi pemerintahan, perbankan, BUMN (Badan Usaha Milik Negara), instansi swasta, dan keluarga,” ucapnya.Selain itu, Mirah Hotel juga menjalin kerja sama dengan Pemerintah Belanda untuk “menampung” masyarakat Belanda yang berkunjung ke Bogor setiap minggu, dengan menyediakan beberapa kamar.

Dengan demikian, bila dilihat prosentasenya, 70% tamu hotel ini berasal dari kalangan pebisnis, 10% umum (walk in), dan sisanya kombinasi. “Karena itu, bila fasilitas meeting room tidak ada yang menggunakan, habislah kami,” lanjutnya.Untuk itu, hotel ini memiliki tujuh meeting roomyang masing-masing bisa menampung 40 orang sampai lebih dari 250 orang. Sehingga, dalam waktu bersamaan dapat mengopname tujuh pertemuan.

Bagaimana dengan citra negatif dan persaingan? “Untuk mengatasi persaingan, kami tidak mempromosikan harga setengah hari atau per jam. Kami juga tidak menyediakan yang macam-macam atau embel-embel apalah. Tapi, sekadar nongkrong boleh dan itu biasanya saat weekdays. Sebab, biasanya mereka adalah tamu dari tamu kami yang sedang meeting atau mereka yang menggunakan lobi kami untuk meeting terbatas,” katanya.

Sedangkan untuk mengatasi persaingan, secara umum,Mirah Hotel menggunakan strategi menjemput bola dan tidak memasang iklan di media apa pun. “Kami cenderung menggunakan one to one marketing yaitu dengan mendatangi calon konsumen secara langsung, menjual solusi, dan membantu mewujudkan planning mereka. Dengan one to one marketing, klien akan dilayani atau berurusan dengan orang yang sama dari awal hingga akhir hubungan bisnis,” lanjutnya.

Dafi menambahkan, untuk meningkatkan penjualan terutama saat “paceklik” yang jatuh pada bulan puasa danBulan Januari-Februari, jauh-jauh hari Mirah Hotel telah menghubungi berbagai instansi yang akan mengadakan meeting, dengan menawarkan special price bila mereka mau memidahkan waktu meeting mereka ke masa “paceklik”. “Memang sangat sulit, karena hal ini berkaitan dengan jadwal mereka. Tapi, bila ini gol, sangat menguntungkan bagi kami,” ungkapnya.

Selain itu, hotel yang lokasinya agak ke dalam sehingga suasananya cozy ini juga merangkul para tamu walk in dengan diskon tertentu. “Kami berusaha keras agar setiap tamu hotel yang sudah masuk ke lobi, tidak akan keluar lagi. Dan, ini sudah kami planning jauh-jauh hari, sudah pula kami jalankan.Meski, tingkat keberhasilannya belum mencapai 100%,” imbuhnya.

Di luar hotel yang diambil dari penggalan nama Amira, salah satu putri pendiri hotel ini, PT Mirah Agung Perdana juga franchisee restoran Papa Ron’s Pizza, yang memberi diskon khusus untuk para tamu hotel. Di samping itu, juga pemilik Saung Mirah, sebuah restoran masakan Sunda yang hanya 100 m jaraknya dari hotel dan menerima delivery order dengan special price untuk tamu hotel. Ada pula billiard center yang mampu menampung 12 meja bilyar, dengan suasana lounge.Dan, sebuah perusahaan konstruksi.

Check Also

Ketika Para Perantau Kangen dengan Kampung Halamannya

Bubur Samin Bubur Samin bukanlah makanan tradisional Solo, tapi menjadi menu takjil yang ikonik di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *