Home / Frontline / Ada After Sale Service-nya Lho

Ada After Sale Service-nya Lho

Lampu Hias Untuk Anak-Anak

Bisnis lampu hias bukan lagi bisnis baru. Tapi, untuk bisa menembus pasar yang sudah penuh sesak, memberikan after sales service ternyata masih bisa diandalkan

lampu hias-2e-preneur.co. Adakalanya, sebuah bisnis dibangun bermula dari ketidaksengajaan. Seiring dengan berjalannya waktu, bisnis tersebut dijalankan dan dikembangkan dengan kesengajaan penuh. Seperti, bisnis lampu hias yang dibangun Tia B. Setiadi.

Pada awalnya, perempuan yang akrab disapa Tia ini, berkunjung ke sebuah pameran sekadar untuk membeli lampu hias bagi anak sulungnya. Tapi, ia pulang dengan tangan hampa.Karena, tidak memperoleh lampu hias seperti yang ia maui, baik dari segi bentuk maupun warnanya.

Kemudian, arsitek dari Universitas Trisakti, Jakarta, ini mencoba membuat sendiri polanya dan meminta bantuan tukang untuk membuatkan kerangkanya. Selanjutnya, ia melapisi kerangka tersebut dengan kain dan ternyata hasilnya disukai teman-temannya. Lalu, mereka memberi saran agar diperbanyak dan dijual.

“Saya ikuti saran mereka dan ternyata memang banyak yang tertarik. Lantas, pada tahun 2003, saya ditawari ikut pameran. Ternyata, animo pengunjung sangat bagus. Mereka juga memberi banyak masukan terhadap bentuk lampu hiasnya.Sehingga, yang semula hanya tiga bentuk berkembang menjadi sebanyak ini.Tentu saja, setelah melalui proses bongkar pasang berulang kali,” tuturnya.

Lampu hias ini, Tia melanjutkan, sebenarnya ditujukan bagi anak-anak usia Sekolah Dasar. Tapi, dalam perkembangannya juga disukai para remaja dan Ibu muda. “Bahkan, sekarang jumlah konsumen remajanya lebih banyak,” katanya.

Perkembangan segmen konsumen ini, sudah dia perkirakan.Karena, pertama, para remaja tersebut menyukai bentuk dan warnanya. “Padahal, kalau dilihat dari bentuknya justru lebih mengarah kepada anak-anak lho,” imbuhnya.

Kedua, mungkin karena hobi. Misalnya, konsumen yang menyukai mobil akan mencari segala pernak-pernik yang berbentuk mobil.Termasuk, lampu hias berbentuk mobil. Ketiga, mungkin karena berfungsi sebagai salah satu penghias interior rumah, maka konsumen cenderung mencari bentuk lampu hias yang lain daripada yang lain.

Imbasnya, segmen konsumennya menjadi tidak terbatas. “Tapi, sekarang, para remajalah yang saya bidik,” ujar Ibu dua anak ini.

Lampu hias tanpa merek yang berukuran 40 cm x 40 cm ini memang mempunyai banyak bentuk, yang modelnya dicomot dari buku bacaan anak-anaknya. “Saya membagi bentuk lampu hias saya menjadi dua yaitu lampu hias untuk perempuan berbentuk menyerupai bunga, kupu-kupu, matahari, bintang, stroberi, dan bebek. Sedangkan untuk laki-laki, berbentuk seperti mobil, pesawat terbang, kapal, dan bola basket,” jelasnya.

Kami menerima perubahan warna kain yang menyelubungi kerangka lampu, penggantian kain yang sobek atau warnanya memudar, mereparasi kerangka lampu yang penyok atau kawatnya putus

lampu hias-1Selain itu, ia juga membuat yang sifatnya netral atau umum.Seperti, lampu hias berwujud sapi, kepik, tabung, dan sebagainya.

Dibandingkan dengan lampu hias lain, mantan konsultan arsitektur ini menambahkan, lampu hiasnya memiliki after sales service. “Maksudnya, setiap tahun kan selalu terjadi perubahan tren warna. Misalnya, tahun ini pink, tahun depan ungu, dan tahun depannya lagi putih. Jika konsumen saya ingin mengubah warna lampu hiasnya sesuai dengan tren yang sedang berlangsung, mereka dapat membawanya ke home industry saya dan nantinya akan saya ganti warna kain yang menyelubungi kerangka lampu hias tersebut. Untuk itu, saya bebani biaya 40% dari harga beli,” ungkapnya.

Tia juga menerima penggantian kain yang sobek atau warnanya memudar, mereparasi kerangka lampu yang penyok atau kawatnya putus. “Untuk kerusakan-kerusakan yang mencapai 50%, saya memasang tarif 60% dari harga beli,” lanjutnya.

Sekadar informasi, lampu hias yang rata-rata mampu bertahan 1–2 tahun ini (kecuali kalau jatuh, red.), dijual berikut bola lampunya yang berkekuatan 5 watt (lampu ini dapat menggunakan bola lampu berkekuatan hingga 25 watt, red.).Sehingga, konsumen tinggal mencolokkannya ke stop contact.

Kini, bisnis yang dibangun dengan modal Rp5 juta ini, telah membukukan omset, yang diistilahkannya, lumayan. “Sebenarnya angka penjualan rata-rata setiap bulannya tergantung pada banyak hal. Misalnya, di pameran seperti Inacraft bisa meningkat hingga 200%. Angka itu di luar angka pemesanan,” ucapnya.

Untuk pemesanan, ia hanya menerima dalam jumlah besar (20–30 buah). Karena, ia harus membuat cetakannya terlebih dulu. “Sedangkan untuk pemesanan khusus (bentuk lampu hias ditentukan oleh pemesan, red.) atau memiliki tingkat kesulitan tinggi, minimal 60 buah. Biasanya, saya akan membuat contohnya dulu. Bila pemesan setuju, baru saya akan membuatnya dalam jumlah sesuai dengan yang dimaui pemesan,” tambahnya. Harga untuk pemesanan tergantung pada tingkat kesulitan dalam pembuatannya.

Di samping home industry dan outletnya di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, lampu yang terbuat dari kerangka besi, mika, dan kain tertentu ini juga dipasarkan ke jaringan Chick Mart melalui sistem titip jual serta ke Surabaya, Bandung, dan Yogyakarta dengan sistem beli putus.

Selain itu, melalui tangan kedua, produk yang bahan bakunya semakin mahal ini juga dapat dijumpai di Amerika Serikat. “Untuk mengatasi masalah bahan baku, mungkin nantinya saya terpaksa menggunakan bahan baku daur ulang daripada menaikkan harga jualnya,” pungkasnya. Strategi bisnis yang unik tapi arahnya jelas, bukan?

Check Also

“Naik Kelas” dengan Mengganti Gerobak Dorong dengan Outlet Permanen Berkonsep Restoran

Bakmi Gila Usaha kakilima banyak diminati para pelaku usaha. Selain itu, konsep PKL mempunyai potensi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *