Home / Frontline / Makanan Berserat Tinggi dari Onggok

Makanan Berserat Tinggi dari Onggok

Nata de Cassava

Siapa sangka, onggok yang biasanya digunakan sebagai pakan ternak, ternyata memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Tiga mahasiswa UGM membuktikannya, dengan mengubah onggok menjadi nata, makanan alami berserat tinggi

petani tapioka di bantule-preneur.co.Saat ini, makanan berserat alami, apalagi yang enak di lidah, seperti nata, sedang digemari masyarakat Indonesia. Sebab, ia bermanfaat untuk melancarkan pencernaan. Imbasnya, permintaan akan Nata de Coco, salah satu produk nata, semakin lama semakin meningkat dan meluas.

Namun, sangat disayangkan, tingginya permintaan pasar itu tidak diikuti dengan peningkatan produksi. Hal ini, terjadi karena keterbatasan persediaan air kelapa, yang menjadi bahan baku utama Nata de Coco (Nata de Coco dihasilkan dari fermentasi air kelapa, red.). Seperti diketahui, kelapa tidak dapat dipanen setiap hari, sedangkan pohon kelapa membutuhkan waktu yang relatif lama untuk tumbuh.

Untuk itu, dibutuhkan bahan baku alternatif sebagai pengganti air kelapa. “Pada dasarnya, setiap bahan baku yang mengandung gula dapat digunakan untuk membuat nata. Limbah tapioka atau onggok merupakan salah satu bahan baku yang berpotensi menggantikan air kelapa. Sebab, mengandung gula dengan kadar yang cukup tinggi, setelah dilakukan fermentasi pada kandungan patinya,” jelas Indra Tri Wibowo, mewakili kedua rekannya yaitu Muhammad Farid Alfarisy dan Nur Kartika Indah Mayasti, yang kala itu masih tercatat sebagai mahasiswa Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Nata de Cassava memiliki citarasa yang mirip dengan Nata de Coco,bahkan nata-nya lebih kenyal, tebal, dan putih

onggokDalam pembuatan nata, Indra melanjutkan, dibutuhkan bahan dasar berkadar gula 6%–7%. Air kelapa memiliki kadar gula 1,5%–2%, sehingga masih membutuhkan penambahan gula. Sedangkan limbah padat tapioka memiliki karbohidrat tinggi, yang bila diolah melalui proses fermentasi akan menghasilkan gula berkadar 5%–7%. Dengan demikian, dalam proses pembuatan nata dengan bahan dasar onggok, tidak lagi dibutuhkan gula. Selain itu, nata yang dihasilkan lebih kenyal, tebal, dan putih.

Nata de Cassava, demikian nama yang mereka berikanterhadap nata berbahan dasar onggok ini, juga memiliki beberapa kelebihan lain. Pertama, prospek bisnisnya lebih bagus ketimbang nata yang terbuat dari berbagai bahan baku lain. Sebab, Indonesia merupakan negara penghasil ubi kayu terbanyak ketiga di dunia setelah Brasil dan Thailand. Dengan demikian, bahan baku tersedia secara melimpah dan murah.

Kedua, onggok yang selama ini hanya digunakan sebagai pakan ternak, bahkan limbah cairnya mendatangkan dampak yang merugikan bagi lingkungan, dapat dimanfaatkan secara maksimal.Sehingga, memberi nilai tambah baik dari segi ekonomi maupun lingkungan. “Pemanfaat limbah tapioka, juga dapat menjadi solusi bagi industri-industri nata yang terhambat ketersediaan bahan baku,” katanya.

Tim cassava IEC 3 ITBKetiga, nata dari onggok cuma mampu bertahan seminggu setelah dipanen. Tapi, bila disimpan dalam larutan gula, masa kadaluarsanya dapat diperpanjang. Keempat, Nata de Cassava memiliki citarasa yang mirip dengan Nata de Coco, sehingga masa pengenalan produk tersebut di pasaran akan lebih cepat. Selain itu, juga dapat menjadi pertimbangan bagi perusahaan-perusahaan berbasis nata untuk bekerja sama.

“Untuk itu, mula-mula kami akan membentuk perusahaan dengan nama CV Cassava,” tutur Indra, yang dalam CV Cassava akan bertidak selaku direktur utama,  Perusahaan yang akan dibentuk tersebut diperkirakan akan menelan total investasi awal sebesar lebih Rp258 juta. “Saat ini, kami sudah mengumpulkan modal sebesar Rp30 juta, yang diambil dari hadiah juara pertama lomba Indosat IEC3 (Innovative Entrepreneurship Challenge),” lanjutnya.

Selanjutnya, menjalin kerja sama dengan pengusaha tapioka di Desa Srihardono dan CV Agrindo Suprafood. Keduanya berlokasi di Bantul, Yogyakarta.. “Khusus untuk CV Agrindo Suprafood yang semula memroduksi Nata de Coco, sudah terjadi perjanjian kontrak jual beli dan bersedia membeli Nata de Cassava,” ungkapnya. Sekadar informasi, lembaran nata yang akan ditawarkan memiliki dua jenis yaitu kualitas pertama yang tentu saja lebih mahal ketimbang kualitas kedua.

Langkah berikutnya, memperluas pasar. Untuk itu, CV Cassava akan melakukan pengenalan produk dan promosi dengan cara menyebarkan jaringan bisnis, melakukan penawaran kerja sama ke berbagai perusahaan besar penghasil nata, beriklan melalui media cetak maupun elektronik, menyebarkan pamflet, menjalin kerja sama dengan pengusaha es buah atau pedagang kaki lima, dan menggunakan fasilitas internet.

Lalu, sesuai dengan visi perusahaan multinasional, di saat posisi sudah kuat baik sebagai pemasok nata untuk berbagai perusahaan maupun selaku mitra bisnis mutualisme bagi industri tapioka di Yogyakarta, maka CV Cassava akan memperluas jangkauan dengan menjalin kerja sama dengan perusahaan-perusahaan besar berbasis tapioka di seluruh Indonesia.

Dalam perkembangannya nanti, ia melanjutkan, CV Cassava yang telah berganti nama menjadi PT Cassava akan memroduksi Nata de Cassava dalam kemasan, dengan berbagai macam inovasi produk. Tentunya, dengan perubahan itu, otomatis target pasar juga berubah yaitu masyarakat dan pasar internasional.

Kemudian, ia menambahkan, mematenkan produk-produk yang akan dikeluarkan PT Cassava ke HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual). “Karena, produk-produk yang kami beri merek Cassava tersebut merupakan produk-produk unggulan, yang dipastikan akan memicu munculnya para pesaing, yang akan meniru dengan merek yang berbeda,” pungkasnya, optimis.

Check Also

Melon Eksotik Berharga Fantastik

Melon Sakata Selama ini, kita hanya mengenal dan mengonsumsi melon berdaging buah putih. Padahal, ada …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *