Home / Frontline / Tidak mengiming-imingi BEP dan ROI

Tidak mengiming-imingi BEP dan ROI

Bakmi Raos

Meski termasuk pemain lama dan sanggup bertahan di tengah kompetisi yang ketat, Bakmi Raos terus memperbaiki konsep waralabanya agar mampu bersaing. Di antaranya, dengan tidak membebankan royalti dan lama kontrak kerja, sertatidak mengiming-imingi BEP dan ROI

bakmi raos 3e-preneur.co. Membangun bisnis melalui franchise, tidak dipungkiri jauh lebih menjanjikan dibandingkan membangun bisnis sendiri. Sebab, franchiseehanya menyediakan dana, serta tidak perlu lagi menjalani proses repot bin ribet, mengingat sistemnya sudah terbentuk. Sementara produk yang dijual, dijamin 90% laku. Dan, ketika menghadapi kendala, tinggal mengadu kepada franchisor.

Bagi franchisor,franchise juga merupakan win-win solution. Karena, franchisor tidak perlu menanamkan modal lagi untuk mengembangkan bisnisnya, serta dapat membangunnya lebih cepat dan dengan risiko lebih kecil. Seperti, yang terjadi pada Bakmi Raos.

Bisnis yang dibangun oleh H. Bimada pada tahun 2003 di kawasan Bintaro, Tangerang, ini dimulai dari sebuah gerobak dan hanya menyajikan mie ayam. Medio 2006, ia menawarkan kemitraan.

“Gara-gara BBM (Bahan Bakar Minyak) naik, harga beli bahan baku menjadi mahal. Saya pun berpikir mengapa tidak dimitrakan saja. Ternyata, tanggapannya luar biasa,” kisah Bimada.

Kemitraan tersebut bersifat beli putus. Karena, ia tidak mau menanggung apakah nantinya mitra akan meraup untung atau justru mengalami kerugian.

Mini resto masih merupakan pasar yang belum dijamah oleh konsep kemitraan

bakmi raosKemitraan yang ia tawarkan senilai Rp15 juta itu, dalam perjalanannya mengalami kesulitan menaikkan harga. Sebab, sekali gerobak tetaplah gerobak, tidak ada eye catching-nya.

Di sisi lain, mitra tidak mau lagi mengeluarkan biaya untuk berpromosi atau sekadar papan nama. Mitra juga tidak menjaga nama baik Bakmi Raos. Misalnya, dengan mengoplos minyak bawang atau membeli mie di pasar di mana seharusnya kedua bahan baku itu dibeli dari franchisor. Selain itu, biasanya, mitra tidak mengelola langsung bisnisnya.

Ketika kesulitan semakin bertambah, terpikir oleh Bimada untuk masuk ke bisnis restoran. Lalu, pada November 2007, Bakmi Raos pun masuk ke kancah mini resto.

“Pertimbangannya, mini resto masih merupakan pasar yang belum dijamah oleh konsep kemitraan,” ujar Direktur PT Raos Aneka Pangan, perusahaan yang menaungi Bakmi Raos.

Selanjutnya, 193 gerobak yang kemudian tinggal 50–70 gerobak, diganti namanya menjadi Bakmi Resto, dengan kompensasi free 1.000 porsi mie plus papan nama Bakmi Resto.

Sekadar informasi, kendati telah berubah nama menjadi Bakmi Resto, tetapi hubungan bisnis tetap terjalin. Sebab, pembelian bahan baku harus tetap melalui Bakmi Raos.

Mini resto terbagi menjadi tiga tipe mitra fee yaitu mitra fee Rp45 juta, hanya menawarkan menu standar. Sedangkan mitra fee Rp75 juta, memiliki menu tambahan Chinese food. Untuk kedua tipe ini, karena sudah harus berbentuk resto atau kafe di mana terdapat dapur dan koki, maka luas outlet minimal sama dengan dua ruko.

Untuk mitra fee Rp150 juta, ada menu tambahan lagi yaitusteak dan masakan Jepang. Tipe ini,sudah berbentuk resto sepenuhnya.Sebab, sudah disediakan manajer, SOP (Standard Operating Procedure), dapur, desain, dan fasilitas-fasiltas lain. Untuk itu, luas outlet minimal 300 m².

Besar kecilnya mitra feejuga mengacu kepada berapa omset yang harus dibukukan mitra setiap harinya. Misalnya, untuk mitra fee Rp75 juta, omset yang harus dibukukan sekitar Rp3 juta/hari.

Selain itu, kemitraan ini juga tidak membebankan royalty fee dan lama kontrak kerja. Bahkan, memberi keleluasaan dalam menjalankan konsep bisnis, menjalin hubungan yang saling menguntungkan dengan para mitra, dan didukung oleh manajemen dengan orang-orang yang berpengalaman.

Bukan cuma itu, usaha yang dirintis dari garasi rumah dan dengan modal terbatasini tidak akan memberi jaminan kapan akan mengalami BEP (Break Even Point) atau ROI (Return of Investment). Kecuali, mitra memintanya. “Itu pun kami berikan dalam bentuk asumsi. Saya justru lebih fokus membantu dalam promosi dan ketersediaan bahan baku yang dijamin 100%,” imbuhnya.

Memasuki tahun 2008, tercetus ide di benak Bimada untuk masuk ke bisnis yang lebih detil lagi yaitu menawarkan franchise. Tapi, ia akan mengelola sendiri franchise-franchise-nya, seolah-olah itu bisnisnya sendiri. Sedangkan franchisee cukup duduk manis di ruang kasir.

“Karena, saya sudah mulai bermain di pasar yang mahal. Jadi, kalau selanjutnya saya biarkan saja, tentu franchisee komplain,” jelasnya.Untuk mempersiapkan rencananya tersebut, ia memulai dengan mengembangkan nama Bakmi Raos (branding), membangun berbagai training center, menempatkan manajer di mitra-mitranya, dan sebagainya.

Saat ini, Bakmi Raos yang bermottokan“Berani Diadu Rasanya” ini, telahmemiliki ratusan outlet dan mulai menelurkan brand-brand restoran baru.

Check Also

Menunya Ciamik, Tawaran Franchise-nya Menarik

SamWon House   Dalam bisnis yang mengusung konsep franchise, jika bukan keunggulan produknya yang dikedepankan, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *