Home / Kiat / Menjaga Mutu dan Selalu Kreatif

Menjaga Mutu dan Selalu Kreatif

Dewi Sri Sanggul

Bagai sayur tanpa garam.Dalam bisnis, jika tidak ada tantangan, kendala, atau persaingan, maka bisnis itu akan terasa hambar dan lambat laun akan mati. Begitu pula dengan usaha hair accessories yang dijalankan Dewi Sri Sanggul, yang meski terbilang langka dan memiliki sedikit pesaing, ternyata justu tidak kecil kendala dan tantangannya

sanggule-preneur.co. Rambut, bagi perempuan merupakan mahkota. Akan terasa seperti sayur tanpa garam, bila penampilan badaniah sudah sempurna, tapi tidak didukung oleh tata rambut yang apik pula.

Karena itu, harap maklum, bila kaum hawa begitu menjaga keindahan dan kesehatanharta yang satu ini. Berbagai perawatan dan gaya rambut kerapkali mereka coba, untuk menghasilkan tampilan yang memukau.

Namun, bagaimana bila kondisi sedang tidak memungkinkan, sedangkan penampilan rambut harus terus dijaga? Gampang! Bukankah sekarang ada wig?

Dalam kehidupan sehari-hari di zaman semoderen ini, wig sudah menjadi salah satu sarana kecantikan yang tidak cuma ditujukan bagi wanita, tapi juga bagi kaum adam.Wig juga berfungsi sebagai salah satu penanda gaya hidup masa kini. Tengok saja, para artis kita yang bergonta-ganti wig dalam setiap penampilan mereka.

Bisnis ini sangat prospektif. Karena, masih sangat sedikit pesaingnya dan dipasar nasional cukup berarti

Padahal, dulu, wig, di Jawa khususnya, hanya diwujudkan dalam bentuk sanggul atau konde yang biasanya dipakai dalam perhelatan-perhelatan tertentu. Sedangkan kini, wig dapat dijumpai dalam aneka ragam bentuk, model, dan warna. Bukan cuma itu, saat ini, wig juga dipakai oleh berbagai kalangan dan untuk berbagai kepentingan. Karena, semua orang ingin tampil cantik, bukan?

Kebutuhan akan produk hair accessories ini hingga tahap langka di kota-kota kecil, seperti Pasuruan, segera ditangkap dengan manis oleh H. Pudjo Sakti. Lalu, ia mendirikan sentra industri sanggul dan wig “Dewi Sri” di area seluas 1.500 m² di Desa Glagahsari, Kecamatan Sukorejo, Pasuruan, Jawa Timur, pada tahun 1983.

“Saya menilai ‘bisnis’ ini sangat prospektif.Karena, masih sangat sedikit pesaingnya. Meski di Pasuruan kurang signifikan, tapi untuk tingkat nasional, khususnya di Jawa dan Bali, cukup berarti,” kata Pudjo, yang sudah memasarkan produknya dengan skala nasional dalam rangka ekspor.

Untuk membangun Dewi Sri ini, ia menanamkan modal awal sebesar Rp500 ribu yang ia gunakan untuk membeli bahan baku. Dalam perkembangannya, Pudjo menyuntikkan lagi modal sebesar lebih dari Rp57 juta, guna pemekaran usaha.

Kini, dengan ratusan karyawan (yang ditempatkan di bagian administrasi, produksi, umum, dan marketing), Dewi Sri menghasilkan 1.200 sanggul/minggu dan 50 wig/bulan, dengan 200 model sanggul dan 50 model wig.

“Produk-produk ini saya tawarkan dengan harga Rp15 ribu−Rp150 ribu untuk sanggul dan Rp100 ribu−Rp300 ribu untuk wig. Sementara untuk tupee (rambut palsu untuk menutupi kebotakan, red.) yang dibuat untuk memenuhi pesanan konsumen pria, dibanderol dengan hargaRp1,5 juta. Harga-harga ini,berkaitan dengan tingkat kesulitan dalam pembuatan dan banyaknya bahan baku atau komponen produksi yang dipakai,” ujarnya.

Misalnya, ia melanjutkan, untuk membuat satu sanggul saja dibutuhkan 100 gr rambut dan untuk satu wig diperlukan 120 gr rambut. Padahal, harga rontokan-rontokan rambut yang diambil di sekitar Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jakarta ini berkisar Rp50 ribu−Rp1,5 juta per kilogram, sesuai dengan ukuran rambutdi mana paling pendek 5−9 inci dan paling panjang 20−30 inci. Sedangkan harga beli rambut sintetis berkisar Rp50 ribu−Rp100 ribu per kilogram. Sementara kebutuhan akan rambut asli dan rambut sintetis masing-masing sebanyak 1 ton/bulan.

Untuk penjualannya, produk yang digemari para istri pejabat pemerintah pusat dan daerah, istri para petinggi TNI, serta para artis ibukota dan lokal ini dapat dijumpai di dua tokonya yang terletak di Pasuruan dan Semarang (kawasan Roro Jonggrang, Perumahan Mendut Permai).Di samping pembelian secara langsung, produk ini juga bisa dibeli melalui pemesanan atau pengiriman baik secara tunai maupun kredit.

Namun, layaknya bisnis, perjalanan Dewi Sri yang memberlakukan sistem pemasaran kanvas atau berkeliling dan menggunakan bantuan internet, juga tidak selalu berjalan mulus. Home industry ini terkendala oleh persaingan yang ketat. Sekadar informasi, di Desa Sambirejo, Kecamatan Rejoso, Pasuruan, juga terdapat sentra industri sanggul dan wig.

“Kami mencoba mengatasinya dengan menerapkan sistem efisiensi produksi, serta optimalisasi dan pemekaran marketing. Selain itu, kami juga terus menjaga mutu dan selalu kreatif,” kata Pudjo, yang sedang melakukan penjajagan ekspor.

Namun, dengan masih tersedianya bahan baku baik rontokan rambut maupun rambut sintetis dan banyaknya pesanan dari konsumen, Pudjo optimis usaha ini bisa bertahan dalam jangka panjang. Apalagi, harga yang ditawarkan Dewi Sri jauh lebih murah dibandingkan jika membeli dari produsen di Surabaya. “Dengan jumlah uang yang sama, di sana cuma dapat satu macam sanggul, sedangkan disini dapat tiga macam sanggul,” pungkasnya.

Check Also

“Naik Kelas” dengan Mengganti Gerobak Dorong dengan Outlet Permanen Berkonsep Restoran

Bakmi Gila Usaha kakilima banyak diminati para pelaku usaha. Selain itu, konsep PKL mempunyai potensi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *