Home / Liputan Utama / Siapkan Tabungan di Awal Usaha

Siapkan Tabungan di Awal Usaha

Soeparwan Soeleman (Mantan Karyawan Swasta Dalam Jajaran Manajemen & Sales IBM & Lenovo)

Banyak orang yang telah mempersiapkan diri, sebelum pensiun menjelang. Salah satunya, Parwan. Apalagi, ketika ia menyadari bahwa usaha pribadinya di bidang organik, memerlukan proses yang cukup panjang dalam membangun image dan brand

kunjungan lapangan (kebun) saat workshope-preneur.co. Isu healthy people dan healthy environmentmemberikan motivasi kuat, untuk ikut berbagi solusi bagi masyarakat dan lingkungan ke arah yang lebih baik. Dengan alasan ini, Soeparwan Soeleman membangun PT Famili Ekokultura dengan mengusung brand FAM Organic dan famO, sebuah perusahaan berbasis eco socioculture dalam bidang kesehatan lingkungan dan masyarakat melalui kebun dan taman organik, serta produk dan solusi turunannya.

“Misi utama kami yaitu mengajak masyarakat menerapkan hidup sehat yang baik dan benar, dengan tetap menjaga kelestariam alam. Jika kita bicara organik, fokus utamanya yakni membuat dan menjaga tanah tetap sehat. Di tanah yang sehat akan tumbuh tanaman yang sehat. Tanaman sehat merupakan awal mata rantai makanan, sehingga akan terbentuk ekosistem yang sehat dan berkesinambungan,” jelas Parwan, begitu ia biasa disapa.

Salah satu cara untuk menjaga tanah tetap sehat, ia melanjutkan, yaitu tidak boleh menggunakan segala jenis residu sintetis, seperti pupuk kimia sintetis, pestisida kimia, aditif kimia, hormon kimia, dan lain-lain. “Dengan kita menanam secara organik, selain mendapat asupan makanan sehat, sekaligus membuat lingkungan menjadi sehat. Dengan demikian, generasi mendatang akan dapat menikmati kesuburan,serta kesehatan tanah dan lingkungannya,” katanya.

praktek workshopFAM Organic, ia menambahkan, menyadari adanya segmen masyarakat yang ingin terlibat langsung dalam proses produksi organik dan segmen masyarakat yang memanfaatkan hasil jadi organik, dengan cara membeli. Konsumen yang membeli produk organik, secara tidak langsung memberikan kontribusi pelestarian lingkungan. Karena, akan mendorong pertanian organik lebih berkembang lagi.

Sebab itu, FAM Organic memberikan solusi untuk kedua segmen tersebut.Pertama, solusi pelatihan, konsultasi, jasa, bahan, dan peralatan untuk membuat serta menjalankan urban farming organic yang disebut Halaman Organik.Yang diutamakan di sini yaitu mencukupi kebutuhan sayuran sehat bagi keluarga, serta kerja sama menjalankan kebun organik untuk skala lebih besar dan komersial. Selain itu, untuk mengajak masyarakat menanamkan rasa peduli terhadap kesehatan keluarga dan kesehatan lingkungan.

“Kedua, bagi yang tidak dapat menanam sendiri, kami menyediakan produk organik dari hasil kebun organik kami, yang dapat dibeli di supermarket atau dipesan langsung,” tambahnya. Konsumen untuk kategori ini, antara lain supermarket, restoran, dan individu.

FAM Organic juga banyak mengusung produk sayuran yang selama ini diisi produk impor, seperti jenis sayuran tertentu, jenis microgreens, jenis sprouts atau kecambah, aneka herbal kuliner, dan sebagainya. “Dan, karena produk kami memiliki nilai tinggi, maka juga sebanding dengan harganya. Misalnya jenis tertentu, mempunyai rentang harga beberapa puluh ribu rupiah per satu ons (100 gram),” ungkap founder, organic lifestyle advisor, danorganic business advisor ini.

di kebun parongpongDi samping itu, FAM Organic menyediakan pula makanan jadi dengan ingredient utama hasil produksi sendiri, seperti baby salad mixed, smoothie, dan jus hijau sehat sayuran. Makanan sehat ini sangat mudah dibuat, sehingga diharapkan konsumen dapat membuat sendiri dengan ingredient yang sehat.

Masih belum berhenti sampai di situ. FAM Organic pun menyediakan eco souvenir dalam bentuk bibit tanaman yang dikemas cantik serta bentuk benih lengkap dengan panduan menanam. Eco souvenir dipergunakan untuk wedding event, green event suatu perusahaan, personal achievement,atau acara lain baik pribadi maupun institusi.

Pengembangan ke depan, kebun organik akan dijadikan eco living & activities yang meliputi eco tourism, eco culinary, eco living, dan lain-lain. “Selain  itu, kami memiliki lima inisiatif yang merupakan roadmap PT Famili Ekokultura yaitu Eat Local Indonesia, Ecofarming Partnership, Indonesia Young Ecofarmer, Halaman Organik Indonesia, dan Healthy Food Start @Home,” lanjutnya.

Merunut ke belakang, usaha ini direncanakan dan dibangun oleh Parwan setelah ia pensiun (dini) pada usia 50 tahun, agar pada usia pensiun sudah memiliki kegiatan yang diinginkan. “Kebetulan, saya termasuk orang yang tidak pandai membagi waktu kantor dan usaha pribadi. Menyadari bahwa kelak saya harus membangun usaha pribadi dari nol, maka saya harus menyiapkan jaring pengaman. Paling tidak, beberapa tahun di awal usaha. Bentuk jaring pengaman tersebut berupa tabungan, sehingga kami dapat membangun usaha dengan lebih fokus. Terlebih, ternyata usaha organik memerlukan proses yang cukup panjang untuk membangun image dan brand, khususnya kepercayaan,” kisah kelahiran Cirebon, 2 September 1958 ini.

Awal tahun 2009 atau pada saat berusia 51 tahun, Parwan mulai merancang usaha ini dengan modal awal Rp250 juta yang ditanamkan secara bertahap. Sementara yang dibutuhkan, utamanya untuk infrastruktur seperti pengolahan lahan, irigasi, rumah plastik, rumah pupuk, ruang pengolah hasil panen, dan packing, serta peralatannya.

“Karena, keterbatasan sumber informasi dan sumber daya manusia (SDM) di bidang pertanian organik, kami memulai dengan mempelajari ilmu pertanian organik dari hasil riset/jurnal universitas atau lembaga yang bergerak di bidang pertanian organik. Dari hasil pendalaman ilmu, kami menerapkan sendiri langsung di kebun kami agar dapat melatih pekerja kami (ilmu pertanian konvensional banyak berbeda dengan pertanian organik, sehingga hanya sedikit skill pekerja eks petani yang dapat diterapkan, terutama paradigma bertani, red.),” jelas Parwan, yang menggeluti usaha ini bersama sang istri, Donor Rahayu.

Namun, seperti bisnis pada umumnya, selalu ada kendala. Meski begitu, menurut sarjana elektro dari Institut Teknologi Bandung ini, usia matang biasanya identik dengan pengalaman. Dan, pengalaman yang banyak biasanya memudahkan proses adaptasi. Artinya, selama memiliki keinginan/hasrat yang kuat, pada dasarnya usaha apa pun dapat digeluti.

“Organik, contohnya, ternyata merupakan usaha yang SDM-nya dapat dikatakan langka. SMK Pertanian maupun perguruan tinggi yang memiliki jurusan pertanian, belum fokus pada organik. Sementara petani yang dipekerjakan, pada umumnya memiliki paradigma pertanian konvensional yang terlalu kuat.Sehingga, sulit untuk berubah. Lulusan SLTA di sentra pertanian lebih suka bekerja di minimarket atau kafe. Kalau pun ada yang ingin menjadi petani, umumnya lulusan SLTP,” ujarnya.

Karena keterbatasan tersebut, pria yang membangun FAM Organic di kawasan Sarijadi Baru, Bandung ini lebih memilih pekerja muda dengan pengalaman pertanian minim dan mudah diajak menerapkan cara-cara baru. Sementara masalah pasar dan harga, Alhamdulillah tidak ada. Membangun kepercayaan pasar, membuka peluang penerimaan pasar dengan harga sepadan.

Di luar itu, pasangan suami istri yang dijuluki green couple ini juga merasa lebih tenang lagi.Karena, penjelasan mereka bahwa usaha ini lebih untuk mengisi kegiatan sehat dengan tetap mendatangkan materi, dengan visi yang panjang yang kelak akan diwariskan kepada anak-anak, dimengerti oleh anak-anak mereka. Bahkan, sudah ada yang ikut mengelola Famili Ekokultura.

Check Also

Harus Pandai Membaca Karakter Orang

Fairuz (Redline Bags)   Membangun bisnis di dalam bisnis dan satu sama lain berhubungan itu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *