Home / Frontline / Penuntas Rindu Masakan Timur Tengah

Penuntas Rindu Masakan Timur Tengah

Al Jazeerah Restaurant & Cafe

al_jazerah 4Rindu masakan kampung halaman? Tidak perlu repot memasaknya sendiri atau bahkan sampai pulang kampung. Datangi saja resto-resto yang menyediakan makanan khas itu. Seperti Al Jazeerah, yang menyediakan aneka makanan Arab

e-preneur.co. Jauh dari tanah kelahiran hingga berhari-hari, bahkan bertahun-tahun, tentu menimbulkan kerinduan tersendiri. Bukan hanya pada orang-orang terdekat dan suasana lingkungan, melainkan juga pada makanan khas kampung halaman.

Pada beberapa orang, mencoba mengatasinya dengan memasak sendiri. Tapi, harus dilakukan modifikasi di sana-sini. Lantaran, tidak semua bumbu yang dibutuhkan tersedia di tempat tinggal saat itu. Sehingga, pada akhirnya, home sick itu pun tidak tertuntaskan.

Itulah yang dialami orang-orang Timur Tengah yang saat ini tinggal di Indonesia atau orang-orang Indonesia yang pernah menetap di negara-negara yang terkenal dengan gurun pasir, unta, dan kurmanya ini. Dan, dengan latar belakang itulah, seorang pengusaha berdarah Arab menanamkan modal untuk membangun restoran berbintang lima yang dinamai Al Jazeerah Restaurant & Cafe.

aljazeerah 2Resto yang dibangun sekitar tahun 2005 ini, berlokasi di kawasan Raden Saleh, Cikini, Jakarta Pusat. Di sini, tersaji 70% makanan dan minuman dari Timur Tengah. Sementara sisanya, berupa makanan dan minuman dari negara-negara Barat (western) dan Indonesia. Meski begitu, dibandingkan dengan resto-resto Arab yang sudah lebih dulu hadir di Jakarta, khususnya, Al Jazeerah dianggap para konsumennya yang paling bisa mewakili lidah (baca: selera, red.) mereka.

Dikatakan begitu, karena resto ini mempunyai menu paling lengkap yang menjadi favorit hampir semua pengunjungnya. Misalnya, untuk appetizer tersedia daging, hati, dan susu unta, serta Homus (semacam selai kacang yang disantap dengan roti, red.) dan Mutabar (semacam selai yang terbuat dari terong lokal yang dihancurkan dan dicampur dengan bumbu-bumbu khas Arab, red.).

Sementara untuk main course-nya, tersedia Kaware Soup (sup kaki kambing), sup daging, sup Yaman, serta lima macam nasi seperti Mandi Dujaj (Nasi Mandi), Kibli Dujaj (Nasi Kebuli), Biryani Dujaj (Nasi Biryani), Nasi Kapsa, dan Nasi Mahfud. Semua nasi tersebut, disajikan dengan potongan daging kambing atau ayam yang sangat empuk dan dimasak dengan bumbu yang berbeda-beda.

aljazeerah 3“Al Jazeerah juga menyediakan Matbi (daging kambing yang dimasak di atas batu khusus, red.), di samping Matbi ayam yang disajikan dengan madu dan bumbu-bumbu lain. Matbi dapat disantap begitu saja atau dengan nasi/roti,” jelas Supervisor Al Jazeerah Restauran & Cafe.

Sedangkan untuk minumannya, tersedia aneka jus termasuk jus kurma, aneka teh seperti teh susu, teh Maroko, teh tarik, dan teh mint, serta kopi Arab dan minuman ringan.

“Lebih dari itu semua, Al Jazeerah merupakan resto pertama dan satu-satunya yang menyediakan menu daging, hati, dan susu unta. Untanya pun didatangkan langsung dari tempat asalnya. Sama halnya dengan bumbu, beras, dan batu khusus untuk memasak Matbi. Demikian pula dengan kokinya,” ungkapnya.

Namun, Anda jangan pernah membayangkan akan menjumpai suasana makan ala Arab yaitu makan bersama dengan menggunakan tangan dan duduk di atas karpet tebal. Karena, dengan konsep resto hotel berbintang lima, maka tatanan interiornya pun sudah menggunakan meja dan kursi, serta cara makanmenggunakan sendok dan garpu. “Tapi, jika ada pengunjung yang ingin makan lesehan ala Arab, kami bisa menyediakannya. Dengan syarat, pesertanya lebih dari 10 orang,” tuturnya.

Anda jangan pula membayangkan akan menemui hiasan-hiasan khas Arab. Sebab, begitu masuk ke resto yang beroperasi pada jam 09.00 hingga 03.00 ini, Anda hanya akan menjumpai bendera Arab dan lukisan di langit-langit ruang VIP (Very Important Person) yang menggambarkan para khalifah.

“Al Jazeerah memang tidak berkonsep Arab tradisional, tetapi Arab moderen dan lebih ditekankan untuk memenuhi selera (makan) orang-orang Arab. Meski begitu, jika memang diinginkan pengunjung, kami bisa men-setting suasana tradisional itu plus musik gambusnya,” katanya.

Tapi, meski ditata secara moderen, Al Jazeerah masih menyisakan unsur Arab tradisional, dengan menyediakan ruang-ruang makan khusus (tertutup gorden) yang ditujukan bagi para pengunjung wanita yang menggunakan cadar.

Selain itu, di dalam kafenya yang ruangannya terpisah dari restoran tapi masih berada dalam satu atap, pengunjung dapat menikmati shisa (budaya merokok ala Arab, red.). Sementara interior kafe, dihiasi dengan sofa tebal nan empuk berbentuk setengah lingkaran memanjang, seperti interior ruangan Jenny dalam film lawas I Dream of Jenny. Kafe yang temaram dan sangat sejuk ini, juga memiliki semacam bar yang uniknya tidak dihiasi aneka botol minuman keras, tetapi semacam alat untuk membuat minuman yang terbuat dari aluminium. Peralatan tersebut berbentuk mirip lampu Aladdin.

Setiap hari, resto yang juga melayani katering untuk gedung-gedung pertemuan dan berbagai hotel di Jakarta dan Bogor ini, selalu kebanjiran pengunjung. Sehingga, pengunjung yang ingin bersantap di Al Jazeerah harus memesan tempat terlebih dulu. Dengan demikian, sangat jarang terjadi jam-jam sepi seperti bisnis resto pada umumnya. Apalagi, pada musim liburan di Arab yang berlangsung sekitar Juni–September, para pengunjung (baca: turis dari Arab, red.) diberi diskon. Diskon juga diberikan oleh resto yang mempunyai dining room, lounge, dan hall ini, pada event-event tertentu. Misalnya, pesta pernikahan.

Sementara, untuk pengunjungnya, meski sasaran utamanya orang-orang Arab VIP,tapi resto yang berencana membuka cabang di Kemang, Puncak, dan Bali ini tidak menolak kehadiran mereka dari kalangan lain. Terbukti, resto yang para waitress-nya berdarah Arab dan mengenakan seragam three pieces seperti karyawati kantor dan berkerudung ini, juga dikunjungi oleh orang-orang Indonesia, Barat, dan bahkan Cina. Tanggapan pengunjung? “Positif!” tegasnya.

Check Also

Ketika Para Perantau Kangen dengan Kampung Halamannya

Bubur Samin Bubur Samin bukanlah makanan tradisional Solo, tapi menjadi menu takjil yang ikonik di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *